Latest Post
Loading...

Karya Perspektif pada Festival OZ ASIA, Adelaide, Australia, September-Oktober 2015 (foto : awd)

Keluarga Perspektif dan Tutti Arts, 2 Agustus 2016 (foto :awd)

Pameran karya Perspektif di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, November 2016 (foto : awd) .

Pameran karya Perspektif di Pojok Budaya Bantul, Juni 2015 (foto : awd).

Pameran karya Perspektif di Bentara Budaya Yogyakarta, Agusus 2016 (foto : awd).

Jumat, 01 Maret 2019

Diffcom Shop, Fasilitasi Difabel Perupa Menjual Karya

Perspektif_News. Karya seni merupakan mata batin bagi sang perupa atau pencipta karya. Berbagai proses melatar belakangi perupa dalam penciptaan hasil karya. Sudah barang tentu tidak sama antara perupa satu dengan lainnya. Sehingga tiap-tiap karya memiliki spesifikasi (karakteristik) masing-masing, sebagaimana ungkapan mata batin pencipnya. Untuk itu nilai jual tiap-tiap karya juga menjadi berbeda, berdasar pada bahan atau material juga ide penciptaannya.
Ada kalanya sebuah karya menjadi sangat istimewa bagi penciptanya, sehingga perupa tidak ingin menjualnya dengan imbalan berapapun. Namun demikian, kebanyakan perupa justru ingin menjual karyanya.

Live Transcribe dan Sound Amplifier Harapan Baru bagi Tuli

Perspektif_News. Perusahaan raksasa internet Google baru-baru ini kembali mengembangkan teknologi untuk semua kalangan, termasuk bagi orang dengan difabilitas. Jika sebelumnya mengembangkan teknologi untuk membantu difabel netra dan difabel fisik, kali ini Google memperkenalkan dua aplikasi bagi difabel tuli.  Live Transcribe dan Sound Amplifier ialah dua aplikasi itu. Dua aplikasi yang dapat membantu tuli mempermudah melakukan aktivitas sehari-hari, membantu tuli berkomunikasi dengan orang mendengar.

Menurut berita yang dilansir gizmologi.id, pengembangan aplikasi tersebut terinspirasi dari Dimitri Kanevsky, ilmuwan riset di Google yang telah bekerja pada pengenalan suara dan teknologi komunikasi selama 30 tahun terakhir. Melalui karyanya, Dimitri ‘yang tuli sejak usia dini’  telah membantu mengembangkan aksesibilitas teknologi.

Dikembangkan dari teknologi CART, yakni layanan pemberi keterangan di internet (captioner virtual place) digabung dengan transkripsi dialog lisan, selanjutnya ditampilkan di layar komputer. Teknologi tersebut mendasari pengembangan aplikasi Live Transcribe. Sebuah aplikasi berbasis cloud atau komputasi suara bagi penyandang tuli, yang mampu mengonversi suara menjadi teks secara langsung (real time) dengan menggunakan mikrofon di ponsel.

Cara kerja Live Transcribe

Untuk dapat menggunakan aplikasi Live Transcribe, syarat utama adalah smartphone android telah terinstal aplikasi  Live Transcribe, yang dapat diunduh dari playstore. Selanjutnya melalui mikrofon smartphone, suara yang diucapkan dan ditangkap mikrofon akan dituangkan dalam bentuk tulisan secara real-time. Dengan aplikasi Live Trancribe, tuli atau orang dengan gangguan pendengaran tidak lagi terlalu bergantung pada orang lain. Sehingga interaksi dan berkomunikasi sehari-hari dengan orang mendengar menjadi lebih efektif.

Efektivitas aplikasi Live Transcribe dirasakan betul oleh seorang mahasiswa tuli yang bernama Laksmayshita Khanza, yang akrab disapa Shita. Dia yang menjadi tuli sejak lahir, semenjak bersekolah di sekolah umum, mengalami hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi.

Dirinya sangat berharap adanya aplikasi yang dapat mengkonversi suara menjadi sebuah teks atau tulisan. Sehingga ketika di kelas, kata dia, penjelasan guru atau dosen dapat dipahami  tuli saat itu juga. “Jadi saya juga teman-teman tuli tidak perlu lagi mengandalkan juru bahasa isyarat, guru pendamping khusus (GPK), atau bantuan teman-teman,” ujar Shita.

Lanjutnya, “Dengan aplikasi Live Transcribe saya sebagai tuli jadi lebih dimudahkan. Saya dapat langsung paham apa yang diucapkan dosen, teman, dan orang-orang di sekitar saya. Sungguh ini sangat membahagiakan!” Kepada Perspektif_News, Jumat (15/2) Shita berteriak kegirangan.

Benar adanya, pada saat yang sama Perspektif_News menguji sendiri aplikasi besutan Google tersebut. Dan real time, semua yang terucap, diterjemahkan (ditranscribe) ke dalam bentuk tulisan. Kepada Perspektif_News kembali Shita menyatakan, dengan alat bantu ini, dirinya merasa lebih mudah berkomunikasi dengan siapa saja tanpa bantuan orang lain.

Pengalaman serupa juga dialami beberapa teman-teman Shita, baik di komunitas maupun di kampusnya. “Saat ini  Live Transcribe benar-benar dapat memenuhi kebutuhan berkomunikasi bagi komunitas kita, komunitas tuli. Seperti jadi punya jembatan penghubung, jadi tidak susah dan bingung lagi,” Ahlan mewakili diri dan komunitas tuli mengungkapkan pada Perspektif_News.

Sebagaimana dirilis gizmologi.id bahwa Live Transcribe tersedia dalam lebih dari 70 bahasa dan aksen. Aplikasi ini juga memungkinkan percakapan dua arah melakui keyboard ketik bagi pengguna yang tak bisa atau tak ingin bicara. Perangkat juga bisa dihubungkan dengan mikrofon eksternal untuk meningkatkan keakuratan transkripsi.

Sound Amplifier

Sound Amplifier, adalah aplikasi untuk memperjernih suara. Semua orang dapat menggunakan penguat audio terutama pada situasi bising. Untuk itu Google meluncurkan Sound Amplifier, yang telah diluncurkan tahun lalu.

Dengan aplikasi Sound Amplifier, tuli dapat memperjernih suara. Dengan demikian lebih mudah menangkap dan mendengar suara. Aplikasi ini pada smartphone Android dapat pula digunakan menggunakan headphone kabel untuk menyaring dan menguatkan suara.

Kerja aplikasi Sound Amplifier adalah meningkatkan suara yang kecil, namun tidak memperkuat suara yang keras. Kejernihan suara dapat diatur, demikian pula dengan peningkatan suara, serta pengurang kebisingan. Dengan pengaturan tersebut, dapat meminimalkan suara lain yang mengganggu.


Live Transcribe juga Sound Amplifier dapat diunduh melalui Play Store, didukung oleh Smartphone Android 9 Pie atau yang lebih baru. Aplikasi ini juga sudah terpasang pada Pixel 4. Dua aplikasi tersebut nyata telah membantu ratusan juta orang tuli atau sulit mendengar di Amerika, sehingga dapat berkomunikasi lebih jelas. *** [SHS] 

Sabtu, 15 Desember 2018

Triyono Mendedikasikan Hidupnya untuk Kesetaraan Difabel

Perspektif_News. Dikenal sebagai sosok pendiri ojek roda tiga (difa bike) dengan label usaha Difa City Tour and Transport, adalah seorang pria yang biasa dipanggil dengan nama Tri. Memiliki nama panjang Triyono (35), pria ini berjanji dengan dirinya sendiri (kontrak hidup), bahwa hidupnya didedikasikan untuk kesetaraan difabel.

Dia tidak akan pernah meninggalkan teman-temannya difabel, terlebih para difabel yang menjadi anak asuhnya atau para pengemudi ojek roda tiga, demikian pula dengan difabel lain yang perlu mendapatkan perhatian. Dijumpai di sela peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2018 yang berlangsung di Balaikota Kota Yogyakarta, Rabu (5/12/2018) Tri menuturkan latar belakang atas hidup yang dipilihnya.

“Selama saya hidup, saya tidak akan meninggalkan anak-anak (difabel dalam difa bike) dan difabel lain yang membutuhkan perhatian. Ini adalah kontrak hidup saya,” ujar Tri kepada Perspektif News.

Difa City Tour and Transport, Inisiasi Gerakan Berbagi dengan Hati


Perspektif_News. Gerakan berbagi kepada difabel berat hingga sangat berat atau dengan mobilitas gerak hanya 0-5%, diinisiasi oleh Difa City Tour and Transport. Dikemas dalam “Difa Peduli” kegiatan diagendakan pada 7-9 Desember 2018. Sebanyak 20 dari 40 orang difabel dengan difabilitas berat dan sangat berat di Wilayah Sleman (Godean, Moyudan, Turi, Pakem), Bantul (Sewon, Sedayu, Imogiri), serta Nangulan, Kulon Progo menjadi teman berbagi

Pendiri Difa City Tour and Transport Triyono, tidak peduli jika akan dikatakan gerakan berbagi yang diinisiasinya sebagai gerakan charity. Bagi Triyono, gerakan berbagi yang dia lakukan bersama para driver, adalah gerakan kemanusiaan. Bagaimana tidak? Mereka ‘para difabel’ tidak mampu beraktivitas, apalagi bermobilitas. Makan, tidur, buang air kecil, buang air besar, semuanya dilakukan di tempat yang sama.

“Ini bukan charity atau belas kasihan. Ini gerakan afirmasi, gerakan kemanusiaan sejati. Mereka juga manusia, bagian dari dunia. Yang butuh kepedulian dari manusia lainnya. Jangan salah mengansumsikan charity,” tegas Triyono.

Dengan kondisi difabilitas berat hingga sangat berat, mereka membutuhkan orang lain seumur hidup mereka. Sementara orangtua maupun keluarga mereka butuh mencari nafkah untuk bertahan hidup. Mereka tidak butuh uang, tetapi butuh makanan, pampers, kesehatan, kebahagiaan, dan teman.  
Sedangkan bantuan dari pemerintah yang diberi nama Jaminan Hidup (Jadup) tidak dapat mereka terima setiap bulannya. Mereka menerima setiap tiga bulan sekali. Sementara mereka perlu makan setiap hari. Seharusnya Jadup ini diterimakan atau disampaikan paling lambat satu minggu sekali. Demikian kritisi Triyono terhadap sistem Jadup.

Assesment pendataan
‘Selanjutnya Triyono bercerita bagaimana dia bisa menemukan 40 difabel dengan kondisi mobilitas gerak 0-5% tersebut. Untuk itu dia, menugaskan seluruh driver untuk melakukan survei di antara kegiatan mencari nafkah (mengantar pelanggan). Survei atau mengunjungi dilakukan untuk mendapatkan data kongkrit difabel sebagaimana kriteria, selanjutnya melakukan assesment kebutuhan. Dari data dan assesment, akhirnya ditentukan paket-paket yang akan disampaikan sesuai dengan kebutuhan.

Karena keterbatasan anggaran Difa City Tour and Transport, 20 orang difabel di Wilayah Sleman dan Kulonn Progo dipilih untuk menerima paket difa peduli periode pertama. Adapun 20 orang lainnya di wilayah Bantul, akan diagendakan pada gerakan difa peduli berikutnya.

Triyono juga menyampaikan bahwa paket yang dikemas rata-rata berisi pampers, beras, gula pasir, teh, dan minyak goreng. Rata-rata paket senilai 200 ribu rupiah. Kegiatan pengepakan paket dilakukan bersama-sama seluruh driver difa bike dengan keterlibatan para mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Selanjutnya Difa City Tour and Transport akan bergerak untuk berbagi ke berbagai wilayah yang memang di sana tinggal difabel yang betul-betul membutuhkan bantuan. Pada kesempatan bincang-bincang dengan Solider, Triyono menghimbau kepada sahabat-sahabat pengusaha dan beberapa pihak peduli, untuk menyisihkan apa yang dimiliki. Tidak harus berupa uang, bisa berupa barang, apa saja. Mari mulai berbagi  dengan hati, berbagi kebahagiaan, tidak perlu menunggu kita menjadi orang kaya.

Menolak panti
Di akhir perbincangan, Triyono mengutarakan ketidaksetujuannya jika difabel diserahkan ke panti. Dia mendorong agar para orangtua tetap mengasuh sendiri anak-anak mereka yang difabel. Dengan mengasuh sendiri, artinya penerimaan sebagai orangtua sudah dibuktikan. “Bagaimana pun keadaan mereka, jangan pernah anak-anak difabel dititipkan ke panti-panti,” himbauannya.

Kepada para orangtua dan siapa saja, Triyono menghimbau untuk meluangkan waktu memahami kebutuhan para difabel berat dan sangat berat. “Mari untuk sedetik mengerti dan memahami kebutuhan mereka. Tidak harus menjadi mereka, atau menjadi bagian dari mereka, baru kemudian bisa merasakan kondisinya. Yang pasti mereka pasti tidak memilih kehidupannya saat ini. Mereka hanya menerima dan menjalani kehidupan yang menyertainya. Mari mulailah berbagi, berbagi dengan hati,” pungkasnya, Kamis (6/12/2018). [sri hartaning sih]

Notes: Data Difabel Penerima Paket “Difa Peduli 2018”
 

Bertrand Antolin and Friends pada Puncak Peringatan HAKTP

Perspektif_News. Artis Ibukota Bertrand Antolin hadir  pada puncak peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), yang dihelat di Kampoeng Mataraman, Panggungharjo, Bantul, Yogyakarta, pada Senin (10/12/2018). Sebuah kerja bareng Lembaga Center for Improving Qualified Activity in Life of People with Disabilities (CIQAL) dan organisasi Sama Setara itu, sekaligus menandai momentum peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2018.
Pada acara tersebut, Bertrand Antolin hadir sebagai representasi atau perwakilan dari Bertrand Antolin and Friends. Sebagai duta  Bertrand Antolin and Friends, menyampaikan bentuk kepedulian dan dukungan kelompoknya terhadap difabel di Yogyakarta.
Empat buah kursi roda standar dan satu buah sepatu terapi, menjadi ujud kepedulian dan dukungan tersebut. Keempat kursi roda tersebut diterimakan kepada Nadang Arya Kusuma (17), Pandes Panggungharjo, Sewon, Bantul; Dwi Haryanti (49), Kringin, Canden, Jetis, Bantul; Sutrisno (43) warga Kemiri Sewu, Godean; dan Nasya Hanifa Sheviani (18) warga Samirono, Depok, Sleman.

248 Difabel Menerima Sakramen Baptis di Gereja Korabaru Yogyakarta

Perspektif_News. Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, Selasa (12/12/2018) menggelar sakramen inisiasi atau baptis bagi 248 umat difabel, yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Selain dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, ada yang datang dari Samarinda bahkan Papua. Sakramen dipimpin langsung oleh Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko.

Mengambil tema “Everyone is Special” kegiatan tersebut menjadi bukti keterbukaan dan cinta kasih Gereja Katolik Kotabaru kepada setiap umat tanpa memandang perbedaan. Sakramen baptis tersebut merupakan tindak lanjut Perayaan Ekaristis bagi umat difabel yang telah terselengara pada 28 September lalu, sekaligus menandai peringatan hari disabilitas internasional (HDI) 2018, yang jatuh pada 3 Desember.

Dua Angka Merah Nilai Raport Malioboro dan Balaikota Yogyakarta


Perspektif_News. Sejak diberlakukannya Perda DIY No. 4 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas (difabel) pada 15 Mei 2014, Kota Yogyakarta membuat banyak capaian terkait perwujudan aksesibilitas dan kebijakan kota inklusif. Sehingga Kota Yogyakarta menjadi barometer inklusivitas bagi kota-kota dan daerah lain di Indonesia.

Namun demikian, sejumlah Organisasi Penyandang Disabilitas DIY yang dimotori oleh Organisasi Harapan Nusantara (OHANA) menemukan dan mencatat adanya dua angka merah, nilai rapor Malioboro dan Balaikota Yogyakarta. Diwakili oleh beberapa difabel fisik, tuli dan netra, bekerja sama dengan Departemen Arsitektur Institut Teknologi Surabaya (ITS), pada 12 September 2018 telah melakukan survei  aksesibilitas di Malioboro dan Balaikota Yogyakarta.

Selasa, 06 November 2018

Anastasia Wella, Sang Penyintas Skizofrenia

Pagi itu pertengahan bulan Oktober 2018, suasana Galery Sangkring Art Space tidak begitu panas. Meski galeri yang berada di Sonosewu, Kasihan, Bantul, Yogyakarta dipadati oleh tujuh puluhan pengunjung. Sebuah acara sarasehan art therapy digelar Universitas Sarjanawijata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. 
Art Therapy merupakan salah satu teknik psikoterapi yang mulai banyak digunakan untuk membantu siapapun mengatasi dan menghadapi masalah psikologisSebuah perpaduan dua ilmu, yakni ilmu psikologi dan seni rupa,” Ujar Rusnoto Susanto, Kepala Program Studi Seni Rupa UST Yogyakarta, Sabtu (13/10/2018).
Tampak salah seorang perempuan dengan jemarinya yang lincah menggoreskan kuasnya pada kanvas berukuran 70 x 90 cm. Dia mencipta karya dengan warna hitam mendominasi obyek lukisannya. Sedikit warna pink dan pastel dipilih untuk mewarnai obyek lain pada hasil karya lukisnya.

Hidup Bermartabat, Menolak Dikasihani

Hidup bermartabat dan tidak ingin dikasihani dipilih oleh para difabel yang tergabung dalam Komunitas Difabel Blora Mustika (DBM). Mencipta karya batik dengan motif khas Blora ‘ranting jati’, menjadi kegiatan sehari-hari anggota komunitas. Pada saat tertentu, mereka akan berinovasi menciptakan karya sesuai moment. 
“Logo Asian Para Games 2018 menjadi motif batik saat moment penyelenggaraan even itu. Adapun batik dengan motif kursi roda, dan daun jati dibuat khusus untuk Presiden Indonesia Jokowi.” Ujar Kandar salah seorang penggagas DBM saat ditemui Solider pada agenda Temu Inklusi di Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Selasa (23/10/2018). 

Keluarga Kunci Lahirnya Kesempatan


Berbicara kesempatan, sama halnya berbicara tentang peluang yang datang dari pihak lain, pihak di luar diri. Kesempatan adalah sebuah faktor, yang memungkinkan siapa pun dapat mengembangkan diri, dan mengoptimalkan potensi. Tanpa hadirnya kesempatan, maka tidak mudah bagi siapa pun mewujudkan keinginan. 
Namun meski datang dari pihak luar, kesempatan tidak cukup hanya ditunggu, melainkan diupayakan. Karena kesempatan atau peluang akan datang ketika seseorang memiliki nilai. Dengan demikian masing-masing pribadi harus melakukan yang terbaik, agar dapat mengukir nilai atas diri. Dan tidak bisa dibantah, bahwa kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya. Sehingga saat kesempatan atau peluang datang, maka harus ditangkap dan dioptimalkan. 

Sosialisasi Sticker Kendaraan bagi Tuli dengan Hastag #TuliNyamanBerkendara

Perspektifnews.Yogyakarta. Hastag #Tulinyaman berkendara akan segera dijumpai pada berbagai media sosial (medsos). Baik Facebook, Istagram, WhatsAap, dan medsos lainnya. Hastag dalam rangka mensosialisasikan sticker kendaraan bagi difabel tuli.
Selasa (2/10/2018), Komite Pemenuhan dan Penghormatan Hak Penyandang Disabilitas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali merealisasikan dukungan bagi tuli agar nyaman berkendara di jalan raya. Sosialisasi penggunaan sticker tanda kendaraan bagi tuli total berkendara di jalan raya, merupakan realisasi dukungan lanjut. 
Sosialisasi dilaksanakan di Kantor Komite Disabilitas DIY, Jalan Sriti No. 20-A Demangan Baru, Catur Tunggal, Depok, Sleman. Dihadiri belasan tuli yang tergabung dalam Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) DIY, dan beberapa anggota komite. 

Berdamai dengan Sesama, Perhatikan Sticker Berlogo dan Tulisan TULI



Perspektifnews.Yogyakarta. Tidak mendengar bunyi klakson, itulah yang terjadi pada setiap orang dengan gangguan pendengaran tuli total. Sehingga tuli yang berkendara di jalan raya dituntut untuk ekstra hati-hati, paham situasi melalui visualisasi. Mengingat, tidak semua pengguna jalan raya menyadari bahwa ada di antara mereka tuli yang juga sedang berkendara. Namun demikian, kenyamanan dan keselamatan berkendara di jalan raya menjadi harapan semua orang, tanpa kecuali tuli.
Berkendara di jalan raya tanpa pendengaran namun mengoptimalkan fungsi penglihatan dan perasaan, dilakukan oleh para tuli. Dengan harapan tidak mengganggu atau membahayakan pengendara lain. Artinya, mereka memiliki kemampuan, pengetahuan, keterampilan dan etika berkendara di jalan raya.

Membangun Kesadaran dan Kapasitas Jurnalis terhadap Isu Difabel



Mengungkap fakta dan menyajikannya menjadi sebuah berita informatif menjadi salah satu fungsi media. Mendorong tumbuhnya pemahaman tentang difabel atau sense of disability diharapkan lahir dari penulisan yang informatif berdasar fakta tersebut. Dengan demikian kesadaran atas seluruh hak yang melekat pada difabel dan pemenuhannya, tumbuh sebagaimana seharusnya.
Namun kenyataannya informasi yang disampaikan media tidak pada esensi, melainkan sensasional atau eventorial belaka. Berbagai faktor menjadi penyebab pemberitaan media tidak memenuhi kaidah dan harapan. Kurangnya awarness maupun pemahaman wartawan terkait isu difabel, atau otoritas redaksi terkait tidak adanya slot pemuatan berita difabilitas.

Gereja Kotabaru Kali Pertama Selenggarakan Perayaan Ekaristi Khusus



Jumat pagi (28/9/2018) kegiatan ibadat di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, dilaksanakan tidak seperti biasanya. Ada juru bahasa isyarat, juru bisik, di antaranya ketidakbiasaan itu. Ketidakbiasaan lainnya, lima orang difabel bertugas sebagai putra altar yang membantu Imam saat mengantar persembahan, menuangkan air putih dan anggur, serta membawa air cuci tangan Imam. Putra altar ini menjadi panutan umat dalam melakukan ritual ibadat ekaristi. 

Selasa, 24 Oktober 2017

Memaknai Tiga Tahun “Perspektif” Yogyakarta dengan Refleksi



Memaknai Tiga Tahun “Perspektif” Yogyakarta dengan Refleksi

Perspektifnews.Yogyakarta. Tiga tahun sudah Keluarga Perspektif  Yogyakarta hadir di tengah khalayak. Lantas, bagaimana komunitas yang membuka ruang bagi difabel tumbuh percaya diri melalui media seni rupa, itu memaknainya? Di antara banyak cara, refleksi dan introspeksi, menjadi pilihan. Berpikir dan meninjau ulang (review/ flash back) tentang mengapa harus ada, apa yang sudah dilakukan dan menata yang akan dikerjakan, menjadi momentum berharga.

Demikianlah. Dibalut kebersamaan, dan rasa cinta menandai tiga tahun usia Perspektif Yogyakarta. Namun, kemeriahan acara potong tumpeng dan kue ulang tahun pun tetap ada. Kemeriahan, suka cita saat bernyanyi, tiup lilin bersama, merepresentasikan rasa syukur atas peringatan tiga tahun kelahiran kelompok itu. Minggu (22/10) bertempat di rumah salah seorang anggota, Nathan Tristhan Purwadi (10), di Perum Wirokerten Pratama Blok D 11-12, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, semua rangkaian acara itu dilangsungkan. Sedikitnya 40 orang hadir siang itu. Kehangatan dan kebersamaan sebuah keluarga makin teras.  Saling mendukung. Semua hal positif menggambarkan kuatnya arti keluarga pada kelompok Perspektif Yogyakarta.

Senin, 13 Maret 2017

“Perspektif” Berbagi pada Sarasehan di Kabupaten Wonogiri

SUASANA Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri pagi itu, Jumat (10/3) semarak. Ratusan kursi ditata setengah lingkaran.  Sejak pukul 08.00 WIB, sedikitnya 100 orang tua dengan anak berkebutuhan khusus (ABK) sudah siap, duduk di kursi empuk berwarna merah itu. Para orang tua ABK itu hadir untuk memenuhi undangan Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kabupaten Wonogiri yang menggelar sarasehan bertajuk momong cerdas bagi Orang tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) se-Kabupaten Wonogiri.

Senin, 02 Januari 2017

Malioboro Dipoles, Bagaimana Difabel Mengakses?

JALAN Malioboro agaknya tak pernah usai dipersoalkan, dibicarakan, termasuk juga dibangun secara fisik. Sepotong jalan di tengah kota itu, memang sudah kadung menjadi landmark Yogyakarta. Apapun yang terjadi di sana, pasti membetot perhatian khalayak.

Kamis (22/12/16) sore lalu, misalnya. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meresmikan kawasan Pedestrian Malioboro. Guiding block (jalan pemandu) bagi kaum difabel netra, sepanjang 910 meter, melengkapi kawasan itu.

 Selain guiding block, ramp (jalan miring) bagi pengguna kursi roda disediakan di sepanjang trotoar kawasan pedestrian Malioboro tersebut. Disediakan pula kursi-kursi, tempat sampah, lampu, air bersih siap minum di dua titik, bola pembatas, dan berbagai fasilitas lain. Pohon asam jawa, gayam, soka, dan berbagai jenis tanaman lain juga ditanam di sana.

Hukum bagi Difabel: Lain Amerika, Lain Pula Indonesia


SUDAHKAH hukum di Indonesia berpihak, berlaku setara bagi difabel? Pertanyaan itu tentu akan melahirkan banyak jawab, bergantung pada situasi dan kondisi penyebabnya. Berbeda dengan Amerika Serikat. Di negara itu, penyandang disabilitas (difabel) baik fisik maupun mental, memiliki status yang sama di hadapan hukum dengan masyarakat non difabel. Kekurangan yang menyertai tidak dijadikan alasan untuk menempatkan difabel sebagai warga kelas dua.

Menurut DR. Sandy A. Folker, narasumber pada diskusi tematik di Kantor SAPDA, Jalan Madubronto No. 25 Yogyakarta, Selasa (20/12/16) lalu, di Amerika difabel mental intelektual dapat menjadi saksi di pengadilan. Dia hanya butuh waktu, ruang dan kesempatan untuk memahami seluk beluk peradilan, mengenal aparat penegak hukum dan tugas-tugasnya.  

Kamis, 08 Desember 2016

Menyoal Aksesibilitas Bus Rapid Transit

Perspektif News - Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo)  Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mengoperasikan bus interkoneksi, Bus Rapid Transit (BRT), yakni sebuah sistem bus yang cepat, nyaman, aman dan tepat waktu yang  kabinnya didesain ada fasilitas bagi difabel atau pengguna kursi roda.
Kepala Dishubkominfo DIY Sigit Haryanto, kepada Perspektif News katakan, bus interkoneksi yang akan diluncurkan 1 Desember 2016, dipastikan  menyediakan fasilitas bagi difabel atau orang berkebutuhan khusus. “Disediakan ruang atau space kursi roda bagi difabel atau orang berkebutuhan khusus lain, misalnya lansia, atau orang sakit,” ujar Sigit Haryanto, ketika ditemui di kantornya, Rabu (7/12) .

Selasa, 06 Desember 2016

Penegakan Hukum bagi Difabel Ibarat Benang Kusut


Perspektif NewsKompleksitas permasalahan difabel dalam mengakses keadilan (access to justice) layaknya benang kusut yang harus diurai satu persatu, diluruskan, dan dirapikan. Dibutuhkan tangan-tangan atau kerja bareng semua lini untuk mulai mengurai benang-benang kusut, agar dapat mendudukkan difabel pada tempat yang setara dengan manusia pada umumnya.
Demikian antara lain persoalan yang muncul dalam acara sharing bareng aparat penegak hukum, lembaga/organisasi serta masyarakat sipil, yang diselenggarakan oleh CIQAL (Center for Improving Qualified in Life of People with Disabilities), Selasa (6/12), di hotel Ruba Graha Yogyakarta.